Jumat, 27 September 2013
Minggu, 16 Desember 2012
puisi untuk puisi
SAJAK HITAM UNTUKMU
Kepada
: Kawanku
: - teriaklah !
Selagi hijaunya
daun masih bisa engkau sentuh.
Murkalah !
Selagi nafasmu
masih berhembus .
Menangislah !
Selagi air
mata bukan darah.
Tunduklah !
Selagi
sajadah masih mewangi.
Perulangan demi perulangan masih kau sesali
Sembari kau kutuk dirimu
Meskii hanya abu nafas
Tapi surga tak sudi berpihak
Matahari telah ke puncak
Mengusung gelisah yang panjang
Burung-burung enggan kepakkan dayap
Tanah menunggu parade penggali kubur
Lolongan srigala bersahutan
Dari lembah yang kehilangan jurangnya
Lihatlah. Bumi sudah terlanjur bunting
Janin harapan terus menggeliat
Mencoba menerka arah angin
Yang tak kunjung juga kau menafsirkannya
Kibaskan belukar di depanmu
Melangkahlah
Tanpa acuhkan jejak-jejakmu
Agar kelak malam menghampirimu
Mengajakmu menari-nari dengan
Perempuan bugil seribu birahi
Lantas hanya namamu yang terpahat
di prasasti kubur
untuk perwaris agar mampu
menafsirkan keterkutukanmu.
Konk, Maret 2006
MONOLOG PADA SANUBARI
Dalam
kesahajaan ku pinjam bahasa sanubari
yang
terukir dalam relung waktu
mencipta
sebuah ruang gelap
berharap
pada tunas-tunas mimpi
akan
gelak tawa yang merajut kasih
pada
sebuah jejak purba –bukan moyang Adam-
Dalam
kesahajaan kucoba mencipta warna cakrawala
serta
arah angin yang gontai oleh peradaban
matahari
yang bunting oleh cinta dan birahi
menjadi
sebuah teka-teki tanpa jawab yang pasti
dalam
kesahajaan tlah ku pinjam bahasa cinta
konon
mampu menafsirkan indahnya birahi,
gemulainya
memabukkan selaksa vodca dingin
yang
saban hari menyanyikan lagu masa depan.
Dalam
kesahajaan ku pinta dengan bahasa yang masih sama
pada
gerai rambutmu,
pada
senyum dan tawamu,
adalah
kasih yang wangi.
Konk,
Desember 2012
AKU MUSNAH
tanpa
apa aku datang padamu -(kata sutardji)-
lantas
patahan kata itu terus mengiang di gua daun telinga
menjalar
menggurat pada kalbu
menggoreskan
jejak yang dalam dan bunting
menjerat
aortaku pada ujung nadi
dan
menjadikannya tiada
aku
hanya patahan kata dari puisi yang terbuang
menjadi
berkeping lebur dan sirna
menjilma
jelaga atas bara yang mengaga
musnah
dan lenyap dalam pelukkan sang bayu
tanpa air
mata dan reinkarnasi
Konk,
Desember 2012
Minggu, 09 Desember 2012
puisi DALAM MALAMMU
DALAM MALAMMU
Dalam malamu aku terhunus
oleh waktu yang meruncing
menusuk muka langit hingga
cakrawala pecah berkeping
menyebar di setiap sudut
waktu
lantas menjadikannya
keheningan yang baka
Dalam malammu aku tersesat
menyibak rimba belukar
merabahi jejak yang
bunting oleh peradaban
menggores kening sendiri
dengan tinda darah
bernama “kesunyian”
Dalam malammu aku berdansa
selaksa simfoni alam
mengalun meronta
menawarkan firdaus dalam
segelas vodca
konon ini pesta para “bar-bar”
di pertengahan abad
Dalam malammu aku menerka
arah angin
lantas aku mengeja adjad
mantra purba
simbol kubur sunyi, tanpa
mozaik percintaan
Dalam malammu aku
tertunduk
mencium tanah rengkah
dan menafsirkan “aku akan
kembali”
Konk, -Desember 2012-
Kamis, 29 November 2012
PUISI Temen
Bukankah kita berasal dari
tanah gersang ?
Oleh : Riniintama
Kita
berkelakar dalam kelebat bayang yang tak tampak,
lalu
terkecoh pada duka lara dan amarah yang rumit
Sedang
pikiran menghantui ruhruh dari bumi yang mati
Kita buka
lembaranlembaran kertas tahun lalu
Segala
paradigma melelehkan helaihelai makna
Melupa mata
air kearifan dan hakikat rasa
Kemana
perginya angin ?
Lalu di tepi
rasamu yang sunyi
Kita eja
baitbait puisi yang memanusiakan manusia
merenungi
barisbaris doa dengan energi tanpa batas
dan
memimpikan oase di tengah panas membakar
Ketidakseimbangan
itu berakhir bumerang
Karena
jiwajiwa di rundung cemas yang usang
Atas
cintacinta yang akan pergi menghilang
Bukankah
kita bagian dari tanah gersang ?
Tetapi
sesaat kemudian memusuhi maut yang siap menghadang
Februari
2011
Dalam buku
“Gemulai Tarian Naz”
PADA GARIS BATAS TITIAN
Oleh : mahyutsan
Senja telah
silam. Kenangan itu terurai kembali dan aku mematut sedih.
Segaris masa
lalu membawa hati pada sebuah penghujung. Kebersamaan itu.
Cinta kita
yang bersemayam dalam raga, terantuk pada keinginan tak seorang pun mau.
Perpisahan.
Sayonara, katamu seraya membuang tatap dan aku terserang getir yang hebat.
Tak ingin
ingin kudengar kata-kata itu. Akan tetapi, pada saat yang sama kau tak hendak
meralat
ucap. Aku menunggu harap-harap cemas waktu akan menulikan dengarku.
Betapa kini
aku telah berdiri pada garis batas titian telah tampak ujungnya.
Ah,
kenangan. Akan kubawa kemana sekelumit kisah yang membuatku mati suri? Sungguh
tak hendak
kubawa kenangan itu dalam setia ayun langkahku. Biarlah menjauh mengikuti
jejakmu
dalam samar cahaya. Tetapi itu tidak pernah terjadi. Seberapa ingin kuenyahkan
selalu
saja ia bangkit kembali dalam rupa membuat takut.
Selasa, 27 November 2012
Dua Malam Bersamamu
DUA MALAM BERSAMAMU
kunikmati alurmu, kusut dan gelisah
sepi menambah kemurkaan
jalan berlubang bukan impian
requiem melayang-layang
mengitari ubun-ubun para pemoles
gelap malam.
senyum sesekali tersungging
mamaksa langkah
mengusung harapan pada peristiwa
kecemasan simbul kasih dan sayang
yang terlanjur menggurat
pada rautmu dan wajah malam
kau rebahkan gelisahmu
walau sejenak
telah ku temukan relief-relief
dalam rimba-rimba kesunyian malam
tikar yang menafsirkan air matamu
jaket basah selimut anganmu
doa-doa tak akan putus mengalir
dari bibirmu -untuk dia yang diharapkan-
di malam ini
saatnya kita memahami raut sendiri
kocar-kacir dalam kaca pintu ICCU,
jalan-jalan kota, lampu stopan,
slogan-slogan, bahkan lantai lobi rumah sakit
:-menangislah nimas, lepaskan penatmu
rebahkan gelisahmu
akau selalu memelukmu, mendekapmu dan
mengeja abjad-abjad namamu dalam doaku.
Konk : Solo-Sukoharjo, Januari 2006
kunikmati alurmu, kusut dan gelisah
sepi menambah kemurkaan
jalan berlubang bukan impian
requiem melayang-layang
mengitari ubun-ubun para pemoles
gelap malam.
senyum sesekali tersungging
mamaksa langkah
mengusung harapan pada peristiwa
kecemasan simbul kasih dan sayang
yang terlanjur menggurat
pada rautmu dan wajah malam
kau rebahkan gelisahmu
walau sejenak
telah ku temukan relief-relief
dalam rimba-rimba kesunyian malam
tikar yang menafsirkan air matamu
jaket basah selimut anganmu
doa-doa tak akan putus mengalir
dari bibirmu -untuk dia yang diharapkan-
di malam ini
saatnya kita memahami raut sendiri
kocar-kacir dalam kaca pintu ICCU,
jalan-jalan kota, lampu stopan,
slogan-slogan, bahkan lantai lobi rumah sakit
:-menangislah nimas, lepaskan penatmu
rebahkan gelisahmu
akau selalu memelukmu, mendekapmu dan
mengeja abjad-abjad namamu dalam doaku.
Konk : Solo-Sukoharjo, Januari 2006
Kamis, 22 November 2012
Manusia Itu Manusiawi
|
Manusia
itu Manusiawi....
|
|
Ditulis
Oleh Sujiwo Tejo
|
|
Selasa, 12
Juni 2012
|
|
Manusiawi itu teriak-teriak antirokok tetapi maniak terhadap junk food
yang sejatinya sama membunuhnya dengan rokok.
Manusiawi itu selalu sibuk berpekik anti-Amrik tetapi rela antre sampai ke jalanan berjam-jam sejak subuh demi mendapat visa ke Paman Sam. Manusiawi itu memuja-muja kebersihan government Singapura dari korupsi walau tahu dari banyak desas-desus bahwa negeri itu adalah lumbung yang gemuk bagi duit para koruptor dari Indonesia. Pendeknya, manusiawi sering dikaitkan dengan seluruh yang bertolak belakang pada diri kita.
Banyak pasangan yang berikrar saling setia, anti diduakan. Tetapi manakala
salah satu pasangan itu benar-benar selingkuh malah semakin dicintai oleh
pasangannya. Mungkin daya saing seseorang justru bangkit dan adrenalinnya
naik ketika memergoki pasangannya nyeleweng.
Jelas-jelas kita pernah dijajah oleh Belanda. Namun tak sedikit sejawat kita
di Tanah Air yang menggebu-gebu pegang Belanda pada Piala Eropa saat ini.
Tak usah sewot. Tak usah terheran-heran. Karena yang seperti itulah yang malah manusiawi pada teman atau pacar kita. Di dalam wayang, Prabu Kresna sering kangen kepada Bima bukan karena Bima selalu menyanjung-nyanjung dan melayaninya. Kalau sudah lama tak bertemu, Raja Dwarawati itu selalu nggak nahan datang ke Amarta, tempat Bima, hanya karena rindu ledekan dan cemooh Bima kepadanya. Apakah manusiawi berarti tak konsisten? Mungkin tak sepenuhnya begitu. Setiap hari dijunjung dan diluhurkan, tak heran kalau Bima yang ceplas-ceplos meledek Kresna justru mendapat tempat khusus di hati titisan Wisnu itu. Cocok dan konsisten dengan hukum pemasaran bahwa yang unik yang akan dikenang. Konsisten pula dengan kenyataan bahwa setiap orang akan mengalami titik jenuh kalau hidupnya saban hari begitu-begitu saja. Maka banyak pasangan yang lebih intim setelah bertengkar termasuk cek-cok akibat penyelewengan. Sebenci-benci kita terhadap Amrik, harus diakui karya-karya orang Amrik termasuk film-filmnya memang bagus. Tak heran jika masih banyak orang pengin melancong ke tempat-tempat yang kerap disaksikannya dalam layar lebar Hollywood. Ini pun masih klop dengan ajaran untuk melihat sisi baik di antara sisi buruk segala hal. Apa salahnya tertarik pada sisi baik Amerika. Apa salahnya mencintai kaus oranye pada Piala Eropa, karena kalau tidak ada Belanda mungkin tak ada jalan raya Anyer-Panarukan, mungkin tak ada rel-rel kereta api. Apa pula salahnya tertarik pada sisi kebersihan dan kerapian Singapura walau mungkin kita sudah tahu borok-boroknya pada sisi lain. Akan halnya junk food, para maniak junk food berpendapat bahwa seburuk-buruknya junk food hanya merugikan diri sendiri. Rokok, asapnya, merugikan orang-orang di sekitar. Itulah yang dapat saya simpulkan dari Hari Anti Tembakau akhir bulan lalu. Tapi apa manusiawi pula jika perokok balik bertanya, junk food memang tak menimbulkan asap, tapi baunya dan tampilan orang-orang makan di dalam etalase kaca membuat orang-orang lain ngiler pengin mampir dan menyantapnya. |
Langganan:
Postingan (Atom)